
Setiap manusia mendambakan kedamaian dan kebahagiaan hidup, dan berbagai cara ditempuh untuk meraihnya. Ada yang berusaha mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, dan ada yang mencari popularitas setinggi-tingginya.Untuk mencapai tahapan tersebut terkadang ia tidak peduli orang lain menderita dan sengsara karena ulahnya. Baginya yang penting harta dan popularitas tercapai dan orang-orang menaruh hormat dihadapanya. Sebagai manusia yang beragama, kedamaian dan kebahagiaan yang sejati tidak terletak pada banyaknya harta dan tingginya popularitas, tetapi terletak pada hati yang terbimbing oleh rahmat dan hidayah Allah. Hati yang didalamnya Allah berkenan memasukan cahanya Nya, sehingga semua bentuk yang merusak hati dibersihkan. “Bumi dan langit Ku tidak dapat memuat Ku, tetapi yang dapat memuat Ku adalah hati hambaku yang beriman” ( khadist qudsi).
“Sesungguhnya Allah mempunyai wadah yang berada pada penduduk bumi, dan wadah Rabb kalian adalah hati hamba-hambaNya yang shaleh, dan diantara mereka yang paling disukai-Nya adalah yang paling lemah lembut hatinya”. ( HR Thabrani ).
Hati lemah lembut adalah hati yang mampu menangkap isyarat-isyarat illahiyah yang terjadi baik yang bersumber dari peristiwa pribadi maupun peristiwa yang terjadi disekitarnya. Yang pada giliranya dirinya menjadi manusia yang terjaga dari perbuatan-perbuatan yng dibenci oleh Allah SWT, ia lebih suka mengkonsumsi makanan yang halal meskipun sangat sederhana, makanan itu sangat nikmat baginya. Dan dunia seisinya ini bagaikan berada dalam genggamanya.
“Barang siapa yang damai hatinya, sehat badanya, ada makanan untuk dimakanya sehari itu, seakan telah berkumpul pada tanganya dunia seisinya”. (HR. Tirmidzi)
Nabi Muhammad SAW. Menempatkan kedamaian hati pada tingkat pertama untuk meraih kebahagiaan hidup. Jika hati kotor atau rusak. Dapat dipastikan kegelisahan dan penderitaanlah yang akan di alami
Nabi Isya AS, bersabda: ”Beruntunglah orang yang menjaga lidahnya, yang memiliki rumah sesuai dengan kebutuhanya, dan yang membersihkan dosa-dosanya”.
“Janganlah banyak berbicara tanpa menyebut nama Tuhan. Jika tidak, hatimu akan mengeras, dan hati yang keras itu jauh dari Tuhan, tapi kalian tidak mengetahuinya. Janganlah membahas dosa orang lain se akan-akan kamu adalah Tuhan, tetapi hitunglah dosa itu dalam kedudukanmu sebagai hamba. Ada dua macam manusia: manusia sehat dan manusia sakit. Berbuat baiklah kepada yang sakit dan bersyukurlah kepada Tuhan atas kesehatan yang dikaruniakan-Nya”.
11.DISIPLIN  Disiplin dalam Islam disebut istiqamah, yaitu teguh pendirian atau patuh dalam tauhid dan tetap menjalankan amal saleh atau kebaikan. Bagi orang yang istiqomah tidak akan ada rasa sedih dan khawatir, karena mereka meyakini betul-betul akan kebenaran agamanya. Salah satu sarana dalam menegakan disiplin adalah pengendalian diri dan selalu berupaya untuk melakukan kebaikan dan menghindari kejahatan. Islam mengajarkan disiplin yang terkait dengan perilaku shalat yang merupakan tiang agama. Bila dikaji dan digali disiplin dalam shalat adalah sebagai berikut: 1.Displin waktu
” Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. ” (QS.An Nisaa’ ayat 103).
”Demi waktu sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS.AL’Ashr ayat 1-2-3). 2.Disiplin bersih ”Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersih” (QS.Al Baqarah ayat 222). 3.Disiplin terhadap perintah pimpinan ”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul dan pimpinan diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikan ia kepada Allah (QS. An Nisaa’ ayat 59).
4.Disiplin kebersamaan dan kesetiakawanan
 ”Sesunguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara” (QS.Al Hujarat ayat10). ”Tidak sempurna iman seseorang, sehingga ia mencintai saudaranya seperti apa yang ia cintai untuk dirinya” (H.R.Bukhari,Muslim dan An Nasa’i dan Anas).
5.Disiplin tertib dan berurutan ”Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu pekerjaan), kerjakanlah sungguh-sungguh (pekerjaan) selanjutnya” (QS.Alam Nasyrah ayat 7).
6.Disiplin keserasian perilaku jasmaniah dan rokhaniah
 ”supaya kamu jangan melampaui batas tentang keseimbangan itu” (QS.Ar Rahman ayt 8)
7.Disiplin tugas ”Sesungguhnya Allah menyukai orang yang apabila mengerjakan sesuatu, dia kerjakan dengan baik” (HR.Al Baihaqy danAisyah) 8.Displin dalam meningkatkan kualitas  ”Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa derajat”. (QS.Al Mujadallah ayat 11)
 ”Apakah manusia menyangka bahwa mereka dibiarkan saja, mengatakan: kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS.AL Ankabut ayat 2).
9.Disiplin dalam menuntut ilmu ”Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS.AL Alaq ayat 1s/5}. “Menuntut ilmu diwajibkan bagi kaum muslimin dan muslimat”. (HR Ibnu Majah&Anas) “Tuntutlah ilmu dari buaiyan sampai keliang kubur” ( Al hadist) “Tuntutlah ilmu meskipun sampai Kenegeri China, karena menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim”. (HR.Al Uqaily, Ibnu ‘Ady dan Al Baihaqy). 10.Disiplin etika
“Ajaklah (manusia) kepada jalan Tuhan dengan hikmah (ber etika) dan berilah pelajaran yang baik (berlogika) dan berdiskusilah dengan mereka untuk menghasilkan yang baik (ber estetika)”. (QS. An Nahl ayat 125) 11.Displin mencegah yang dilarang. ”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS.Al Ankabut 45 ) Balasan bagi orang yang istiqamah dalam keimanan dan ketakwaan adalah kebahagiaan di dunia dan akhirat. “Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal didalamnya, sebagai balasan atas apa yang tekah mereka kerjakan” (QS.Ahqaaf ayat 14).
Nabi Muhammad saw adalah sosok yang giat dalam mencari kehidupan, namun beliau tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup, tetapi harta dan penghidupan itu sekedar alat/sarana untuk mencapai tujuan. Didalam islam telah dirumuskan, bahwa semua pekerjaan yang halal dianggap mulia dan pekerjaan yang haram dianggap hina. Islam tidak membatasi jenis usaha, yang dibatasi adalah pelaksanaanya jangan sampai terjadi kebathilan. Dalam berusaha tentulah keuntungan yang dicari, tapi hendaklah tidak merugikan orang lain. Dengan demikian terjadilah prinsip saling menguntungkan yang saling berkeseimbangan antara masing masing pihak. Dalam ajaranya yang bersumber dari Alquran dan Alhadist tidak ada penghilangan hawa nafsu yang umumnya selalu berorientasi kepada duniawi, tetapi bagaimana seharusnya akal pikiran mengaturnya dan jiwa (hati nurani) mengemudikanya.agar senantiasa terpelihara keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan yang antara lain: : 1.Keseimbangan dalam pemakaian harta.Islam menetapkan bahwa harta yang diusahakan dengan pikiran dan tenaga merupakan amanah Allah yang harus dipergunakan dengan sebaik baiknya,melalui prinsip keseimbangan tidak boros dan kikir. ” Sesungguhnya pemboros pemboros itu adalah saudara sudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada tuhanya” (Qs. Al Israa’ ayat 27) ”Dan janganlah kamu jadikan tanganya terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkanya (boros), karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal". (Qs.Al Israa’ ayat 29 ). 2.Keseimbangan amal duniawi dan uhrawiManusia tidak dibenarkan mengabaikan kesejahteraan duniawi karena mengejar kesejahteraan uhrawi, dan juga tidak dibenarkan meninggalkan kesejahteraan uhrawi karena mengejar kesejahteraan duniawi. Untuk mencapai prinsip keseimbangan duniawi dan uhrawi, islam memberikan arah yang jelas bagaimana upaya untuk mendapatkan kesenangan duniawi secara sah dan halal, dan bagaimana pula memperoleh kebahagiaan uhrawi secara benar dan tidak menyesatkan. ”Dan carilah melalui sesuatu (nikmat) yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan”. (Qs. Al Qashas ayat 77). 3.Keseimbangan ibadah dan amalIslam memiliki ajaran yang membentangkan dua lini komunikasi yang harmonis, yaitu lini vertikal yang mengatur tata hubungan antara manusia dengan tuhanya dalam hal ibadah (’ubudiyah) dan lini horisontal yang mengatur hubungan antara sesama manusia dan mahluk lainya dalam bentangan amaliah sosial (mu’amalah).  "Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas ”. (Qs.Ali Imran ayat 112). 4.Keseimbangan antara iman dan amalKeimanan adalah segi yang amat mendasar dalam islam, sehingga ditetapkanlah sebagai indikator yang membedakan seseorang apakah ia kafir atau mukmin,apakah ia ahli surga atau penghuni neraka. Iman akan berarti bila di ikuti dengan amal yang saleh, dan amal yang saleh tidak diterima oleh Allah tanpa disertai iman. Ini berarti antara iman dan amal tidak boleh dipisahkan, dan keduanya harus berkeseimbangan. ”’Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat- ayat –Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan membelanjakan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian disisi Tuhanya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia” (Qs.Al Anfaal ayat 2,3,4) 5. Keseimbangan kegiatan produktif dengan kebutuhan konsumtif.Kebutuhan produktif dan konsumtif seseorang sangatlah dipengaruhi oleh nafsu, akal dan pikiran serta jiwanya. Nafsu yang besar akan kebutuhan konsumtif akan dapat berubah menjadi semangat yang besar untuk melakukan kegiatan produktif, apabila akal yang sehat dapat mengaturnya dan jiwa yang bersih dapat mengendalikanya. ”Dialah yang telah menjadikan bumi yang mudah dipergunakan untuk kepentingan kamu. Maka berjalanlah pada penjuru-penjurunya, dan makanlah dari rezeki-Nya, dan kepada Allah tempat kembali”. (Qs.Al Mulk ayat 15) ”Dia (Allah) telah menciptakan kamu dan bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya” .(Qs. Hud ayat 61)
 1. Hari Terbaik Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabada: "Hari terbaik dimana pada hari itu matahari terbit adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan surga serta dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada Jumat" 2. Terdapat Waktu Mustajab untuk Berdo'a. Abu Hurairah berkata Rasulullah bersabda: " Sesungguhnya pada hari Jum'at terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasululllah mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu (H. Muttafaqun Alaih) 3. Sedekah pada hari itu lebih utama dibanding sedekah pada hari-hari lainnya. Ibnu Qayyim berkata: "Sedekah pada hari itu dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya laksana sedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya". Hadits dari Ka'ab z menjelaskan: "Dan sedekah pada hari itu lebih mulia dibanding hari-hari selainnya".( Mauquf Shahih) 4. Hari tatkala Allah SWT menampakkan diri kepada hamba-Nya yang beriman di Surga. Sahabat Anas bin Malik dalam mengomentari ayat:  "Dan Kami memiliki pertambahannya" (QS.50:35) mengatakan: "Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jum'at". 6. Hari dihapuskannya dosa-dosa. Salman Al Farisi berkata : Rasulullah bersabda: "Siapa yang mandi pada hari Jum'at, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi diantara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum'at". (HR. Bukhari). 7. Orang yang berjalan untuk shalat Jum'at akan mendapat pahala untuk tiap langkahnya, setara dengan pahala ibadah satu tahun shalat dan puasa. Aus bin Aus berkata: Rasulullah bersabda: "Siapa yang mandi pada hari Jum'at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah". (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah). 8. Wafat pada malam hari Jum'at atau siangnya adalah tanda husnul khatimah, yaitu dibebaskan dari fitnah (azab) kubur. Diriwayatkan oleh Ibnu Amru , bahwa Rasulullah bersabda: "Setiap muslim yang mati pada siang hari Jum'at atau malamnya, niscaya Allah akan menyelamatkannya dari fitnah kubur". (HR. Ahmad dan Tirmizi, dinilai shahih oleh Al-Bani).
ORANG ORANG YANG DIDOAKAN OLEH PARA MALAIKAT 1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga Malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci". (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37) 2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469) 3. Orang - orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.Rasulullah SAW bersabda, " Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130) 4. Orang - orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272) 5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu". (Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782) 6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini) 7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah.Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir) 8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., Shahih Muslim no. 2733) 9. Orang - orang yang berinfak.Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010) 10. Orang yang sedang makan sahur.Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang - orang yang sedang makan sahur" Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa "sunnah" (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519) 11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar,"Sanadnya shahih") 12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343) ----- Sumber Tulisan Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (Orang -orang yang Didoakan Malaikat, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005.
Menjelang pertengahan bulan Pebruari, kita menyaksikan banyak media massa, mall mall, kafe, tempat hiburan, berlomba menarik perhatian khususnya kawula muda, dengan menawarkan acara-acara pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga larut malam. Semua itu bermuara pada satu momentum yang disebut Valentene’s Day atau biasa dikenal dengan hari kasih sayang. Tepatnya tanggal 14 Pebruari. Mereka saling mengucapkan selamat, berkirim kartu, bunga, saling curhat, saling menyatakan cinta, bahkan ada yang lebih jauh lagi dari batas batas norma kesusilaan. Suatu acara yang senada dengan perkembangan gejolak jiwa kaum remaja yang terkadang tidak peduli apa faedah, segi positip dan negatifnya, tak peduli pencetusnya, bahkan tak peduli apa hukumnya bagi umat islam. Islam sebenarnya tidak melarang seseorang menyatakan cintanya kepada lain jenis, karena cinta dan kasih sayang adalah fitrah pemberian Allah SWT. Bahkan lewat cinta dan kasih sayang itulah bisa terjalin kelurga sakinah, keluarga yang tenteram dan damai. QS ArRum21 “Dan tanda-tanda kekuasaan-Nyaialah menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadika-Nya diantaramu rasa kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Nikah adalah termasuk sunnahku, dan barang siapa yang benci akan pernikahan, maka tidak termasuk golonganku” (AL Hadist).
Dari ayat AlQuran dan AL Hadist diatas maka jelaslah letak perbedaan kasih sayang yang dimaksud pada hari Valentene’s Day. Oleh karenanya bagi para muda yang sudah siap dan punya modal segeralah menentukan cintanya dan segera khitah ,lalu mengadakan upacara pernikahan dengan walimahnya secara islam. Dan satu hal yang perlu di ingat bahwa hidup didunia pada abad millennium sekarang ini penuh tantangan, teknologi semakin canggih, kebutuhan hidup semakin meningkat, lahan semakin sempit, penghuni dunia semakin berpacu. Kalau hanya sibuk dengan cinta dan berkasih sayang, sementara keterampilan dan teknologi yang mestinya di kuasai terabaikan maka jelaslah akan selalu ketinggalan
Ketika mantan Presiden RI Suharto terkulai opname dirumah sakit Pertamina Jakarta sejak awal Januari 2008 hingga wafat, tidak sedikit sanak keluarga yang menjenguk bahkan yang berkaliber nasional maupun internasional serta yang masa ke Pemimpinanya merasa tersakiti juga tak ketinggalan.Dan bila ditelusuri maksud kunjunganya ternyata tidaklah sama. Ada yang berkunjung karena rasa simpatiknya kepada beliau, ada yang merasa keluarga dekat, ada yang merasa karena berhutang budi. Ada yang merasa kasihan dan banyak lagi berbagai macam kepentingan. Lepas dari permasalahan diatas Rasulullah SAW telah memberikan tausiahnya kepada umat islam sebagai berikut,”Hak Muslim atas Muslim lainya itu ada enam macam: Apabila engkau ketemu dia hendaklah enkau beri salam kepadanya, dan apabila dia mengundangmu maka penuhilah undanganya, dan apabila ia minta nasehat maka nasehatilah, dan bila ia bersin mengucapkan Alhamdulillah hendaklah engkau doakan, dan apabila ia sakit maka jenguklah ia, dan apabila ia mati maka hendaklah engkau iringi jenazahnya” (HR. Muslim)
Salah satu rukun iman yang enam adalah iman kepada hari akhir. Rasulullah dalam banyak sabdanya sering mengkaitkan keimanan kepada Allah dengan adanya hari akhir dikandung maksud agar manusia senantiasa sadar akan adanya hari dimana seluruh perbuatanya akan dipertanggung jawabkan, sekali gus sebagai peringatan bahwa dunia itu bukan negeri keabadian, tetapi hanya tempat persinggahan dari suatu perjalanan yang panjang. Keyakinan kepada hari akhir akan menjadikan seseorang akan menhitung untung dan ruginya dalam mempertahankan dunia yang mereka kejar. Nabi kita yang mulia begitu banyak membuat perumpamaan tentang fitnah dunia yang sering menggelincirkan manusia, dan pada saat yang sama beliau juga mengingatkan akan nikmat nya surga dan pedihnya azab neraka,yang keduanya kekal dan abadi. Peringatan itu dimaksudkan agar umatnya waspada akan godaan dunia yang penuh tipu daya, juga agar hati dan jiwa selalu ingat akan negeri akhirat. Hanya dengan cara seperti itulah manusia akan ter bebas dari segala kesedihan dan kegundahan akan urusan dunia mereka. Karena tidak ada kesusahan dan kesengsaraan yang hakiki kecuali dineraka dan tidak ada tidak ada kebahagiaan yang hakiki kecuali di syurga. Seringkali manusia berputus asa karena sulitnya penghidupan mereka, lalu berburuk sangka terhadap ketentuan dan ketetapan takdir atasnya. Sebaliknya manusia mudah berbangga dan menyandarkan kemuliaan hidup mereka pada harta dan nilai nilai dunia semata, hal yang bersifat fisik sering diutamakan di banding dengan nilai keshalihan dan ketakwaan, akibatnya banyak manusia yang terkena penyakit hati yang mematikan, baik saat mereka mendapat karunia nikmat kebendaan maupun pada saat mereka mengalami musibah. Rasulullah bersabda:”celakalah budak dinar dan celakalah budak dirham, celaka sungguh ia akan celaka, jika ia terkena duri niscaya ia tidak akan sanggup mencabutnya”.
Allah berfirman ( AL Fajr ayat 15 -16 ) Adapun manusia, apabila tuhanya mengujinya lalu dimuliakan-nya dan diberinya kesenengan, maka ia berkata tuhanku telah memuliakanku” Adapun bila tuhanya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka ia berkata tuhanku menghinakanku” Manusia celaka adalah mereka yang berani menetapkan standar kebahagiaan dan kesengsaraan berdasarkan pandangan dunia. Padahal Allah tidak pernah melihat kepada fisik dan bentuk wajah seseorang, yang dilihat dan dinilai hanyalah ketakwaan yang ada pada dirinya. Seorang budak hitam yang buruk rupa yang bertakwa, lebih baik dan lebih mulia dari seorang merdeka yang berwajah rupawan namun kufur dan ingkar.harga mereka disisi Allah tidak lebih dari seekoe binatang, bahkan binatang itu lebih tinggi nilainya. Allah berfirman (AL Araf 179 ) “Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat ayat Allah, dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar ayat ayat Allah, mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.
Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita sebagai orang tua mestilah harus mengerti lebih dahulu siapa kita dan dari mana kita hidup,untuk apa kita hidup, dan ada apa setelah kita hidup. Tanpa memahami semua jawab dari pertanyaan diatas, kita tidak akan mempunyai gairah dan minat untuk mendidik anak kearah kebaikan. Buat apa mendidik yang tentunya memerlukan curahan hati, buat apa mendidik yang tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sedangkan kita masih membutuhkan kesenangan yang lain?, Buat apa mendidik yang tentunya memerlukan energi yang tidak sedikit,sedangkan kita masih ingin hidup seratus tahun lagi?. Itulah pendapat orang yang tidak mempunyai pemahaman tentang kehidupan, hidupnya menerawang tanpa hidayah. Kata katanya hanya keluar dari tenggorokan dan meluncur lewat lidah tanpa pendalaman dan tujuan, hidupnya hanyalah sekedar mengisi perut dan melampiaskan hawa nafsu angkara. Padahal apakah hakekat hidup, bila generasi berikutnya hanya menjadi sampah masyarakat?.Apakah hakekat kebahagiaan bila kita melihat generasi berikutnya menjadi musuh kehidupan? Apakah hakekat harta benda bertumpuk apabila generasi berikutnya menjalani hidup yang nista?. Bukankah anak anak kita juga merupakan salah satu sosok wajah kita?, merupakan layar yang dibaca orang dan bangsa lain? dan lebih dari semua itu, anak adalah suatu petaruh yang diamanatkan ALLAH kepada kita. Karenanya apa yang kita perbuat terhadap mereka, kita yakin ada hubungan yang erat antara mendidik anak dengan nasib kita dialam sesudah kehidupan ini yakni alam akhirat.
SIAPA DARI MANA DAN UNTUK APA KITA HIDUP

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” An Nahl ayat 78 Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu (pangkal ayat diatas). Tentu saja hendaknya akibat dari perkawinan yang syah, sesuai dengan hukum Allah. Ketika lahir manusia tidak mengetahui apa apa, kemudian Allah memberi pendengaran, penglihatan dan hati, untuk apa semua itu? Tak lain agar manusia pandai bersyukur. Bersyukur bukan sekedar ucapan terimakasih yang meluncur dari bibir, tetapi menggunakan segala pemberiannya untuk berbakti dan bertakwa kepadanya. Unuk bersyukur tersebut apakah anak yang baru lahir itu dalam perkembanganya secara otomatis mengetahui dengan sendirinya? Disnilah letak titik tumpu masalahnya, disnilah letak pentingnya bimbingan orang tua kepada anak agar dapat menjadi manusia yang bertakwa dan berbakti kepada Allah dengan segala dimensinya. Bila tujuan hidup manusia semata mata dunia, maka mendidik tidaklah terlalu penting diarahkaan kepada pendidikan moral. Karena bila harta dunia telah tercapai apakah gunanya kepentingan moral? Yang penting adalah kecerdasan dan intelektualitas serta kesenangan duniawi dan kemasyhuran, dan bila itu telah tercapai pastilah orang akan menaruh hormat dan menundukan kepala Tetapi bila tujuan hidup seseorang selain dunia juga akhirat, maka mendidik adalah suatu hal yang penting,dan tentu saja pendidikan diarahkan terhadap titik tumpu dari tujuan hidup yang diridlai Allah, yakni agar menjadi manusia yang takwa sehingga selamat didunia dan akhirat. Karenanya mendidik mestilah singkron, antara dua tujuan, yakni dunia dan akhirat. Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Bukan orang yang baik, yang meninggalkan urusan dunianya karena mencari akhirat, dan bukan orang yang baik, yang meninggalkan akhirat karena mengejar dunia. Orang yang baik adalah yang mengumpulkan (menggabungkan) dunia dan akhirat” Sebaik baik alat perhubungan yang dapat menyampaikan kamu keakhirat ialah dunia. Maka dari itu kendaraialah dunia itu, agar kamu sampai ketempat yang kau tuju, yakni akhirat” (Al hadist). Bila mempunyai anak hanyalah dengan tujuan yang tidak jelas,atau hanya akibat sekedar melampiaskan nafsu biologis saja maka apakah bedanya dengan binatang?.orang yang baik selalu memperhitungkan laku perbuatanya didalam mendidik, dan memperturutkan garis lurus atau menyimpang dari jalan yang benar. Karena anak adalah suatu proyek dari sebagian hidup kita, dan disinilah letak kedudukan tanggung jawab orang tua. Rasulullah saw. Bersabda yang artinya: “seperi laki laki menjadi pemelihara (pemimpin) dalam keluarganya (anak, isteri dan lainya), dan bertanggung jawab terhadap (baik buruknya) pemeliharaanya itu” (H.R. Bukhari dan Muslim). Jelaslah bahwa tujuan dalam hidup ialah lahirnya generasi yang bersyukur dan bertakwa kepada Allah., maka mendidik adalah syarat mutlak dari kehidupan. Beban ini tidak bisa ditawar tawar lagi, karena merupakan sebagian dari bakti atau ketakwaan kita kepada Allah.

Telah maklum bersama bahwa anak adalah merupakan amanat dari ALLAH, maka tidaklah ringan beban orang tua dalam menerima amanat tersebut.tentu saja suatu amanat hendaknya dipelihara dan dirawat sesuai dengan pesan pemberi amanat. Maka bilamana sementara orang mengnggap bahwa anak hanyalah sebagai kebanggaan saja, sebagai sesuatu untuk menyombong dan pameran, kemudian anak tersebut tidak dididik dan dibimbing sesuai amanat ALLAH .amat celakalah orang tersebut. Akibatnya tentu fatal, antara lain anak akan menyeret orang tua terseret kelembah neraka di akhirat dan mendapat malu didunia
ALLAH Berfirman dalan surat At tahrim ayat 6 yang artinya: 6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan Berdasarkan ayat diatas, maka tidak ada alternatif lain bagi orang tua kecuali mendidik dan membimbing kejalan ALLAH. Perubahan jaman yang begitu cepat, suasana lingkungan dan perkembangan teknologi mempunyai dampak yang besar terhadap kerkembangan jiwa manusia. Kita sebagai orang tua, yang hidup ditengah jaman ini, dengan bekal yang kita terima ketika kita masih kecil nyaris tenggelam ditelan kemajuan jaman saat ini.karenanya bila anak hanya dibekali seadanya tanpa dipersiapkan untuk menghadapi hidup yang akan datang tentu tidak akan mampu mengarungi ronanya kehidupan.
Rosulullah saw. Bersabda yang artinya; Didiklah anak anakmu, karena mereka itu dijadikan buat menghadapi jaman yang sama sekali lain dari jamanmu ini Denga sabda Rasulullah saw. Jelaslah bahwa sejak kecil anak anak seharusnya telah mendapat pendidikan.dan menurut hasil penelitian ilmu pengetahuan modern yang dominan membentuk jiwa manusia adalah lingkungan, dan lingkungan yang pertama kali dialami oleh seorang anak adalah ayah dan ibu.
Disini pula pentingnya mengapa mendidik anak dimulai sejak dini, karena perkembangan jiwa anak telah mulai tumbuh sejak dia masih kecil, sesuai dengan fitrahnya. Dengan demikian maka fitrah manusia itu kita salurkan,kita bimbing dan kita juruskan kepada jalan yang seharusnya sesuai dengan arahnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw: Yang artinya Setiap anak dilahirkan atas fitrah ( kesucian agama yang sesuai dengan naluri), sehingga lancar lidahnya, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.( H.R. Abu Ya la, Thabrani dan Daihaqy,dan ada lafald lain yang diriwayatkan Bukhari)
Adapun mendidik dan membimbing manusia kejalan agama yang benar itu amat dicintai ALLAH, sebagai mana sabda Rasulullah saw yang artinya: “Sesungguhnya orang Mumin yang paling dicintai disisi ALLAH ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada ALLAH dan memberi nasehat kepada hambanya, sempurna akal pikiranya serta menasehati pula dirinya sendiri dah menaruh perhatian serta mengamalkan ajara Nya selama hayatnya, maka dia beruntunglah dan memperoleh kemenanga.” ( Riwayat dari Ibnu Abbas r.a)

What is Learning?
BATASAN BELAJARBelajar (Learning) sering diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang secara relatif bersifat terus menerus sebagai akibat dari pengalaman (Davidoff, 1981: 130).Dalam batasan tersebut, makna belajar mengandung unsur: (1) perubahan tingkah laku, (2) relatif terus menerus, (3) pengalaman. Masing-masing unsur akan dijelaskan dalam uraian berikut ini.Perubahan Tingkah LakuSuatu kegiatan disebut belajar jika dengan kegiatan itu sang pelaku mengalami perubahan tingkah laku. Jika dia tidak mengalami perubahan tingkah laku, berarti dia belum (atau tidak) belajar. Misalnya, seseorang yang bernama Paijo mengendarai sepeda motor tidak mau mengenakan helm standar sebagaimana dianjurkan oleh polisi. Dia hanya mengenakan helm ciduk. Suatu hari dia mengalami kecelakaan. Dia mengalami gegar otak. Untuk penyembuhan, dia harus menjalani perawatan dalam waktu yang lama. Setelah sembuh, dia selalu mengenakan helm standar sebagaimana dianjurkan polisi. Dia kapoooook pok tidak mau lagi memakai helm ciduk. Dia sadar bahwa yang dianjurkan polisi itu benar. Naaaaahhhh, dia baru saja mengalami proses belajar. Di dalam dirinya ada perubahan tingkah laku.Lain halnya dengan si BEGO berikut ini. Dia mengalami peristiwa yang sama dengan yang dialami Paijo. Si Bego juga mengalami kecelakaan lalu lintas. Karena tidak memakai helm standar, dia mengalami gegar otak. Setelah sembuh dari sakitnya, dasar bego, dia justru tidak mau memakai helm. Kepalanya dibiarkan tanpa pelindung kepala. Suatu hari dia kecelakaan lagi, dan ... selamat jalan bego, dia meninggal dunia. Naahhh, apa yang dialami si bego ini tidak bisa disebut belajar. Si Bego tidak pernah belajar dari pengalaman kecelakaan yang dialaminya.Relatif Terus MenerusRelatif artinya tidak mesti, tidak selalu begitu. Relatif terus menerus berarti tidak benar-benar terus menerus. Yaa kadang-kadang lupa, ingat lagi, lupa lagi, ingat lagi, berubah lagi, tidak berubah lagi. Yaa namanya juga belajar, tidak langsung berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak sopan menjadi sopan, dari tidak sadar menjadi sadar. Semuanya butuh proses, ada proses yang pendek dan ada proses yang panjang. Makanya disebut relatif terus menerus gitu lho. Makanya kalau ada anak sedang belajar sopan santun yaa jangan dimarahin ketika dia belum sopan, karena dia sedang mengalami perubahan yang secara relatif bersifat terus menerus.Tetapi yang lebih penting kita pahami bahwa makna terus menerus itu berarti jangka panjang. Perubahan itu bersifat panjaaaaaaaang sekali. Jika hari ini berubah dibandingkan kemarin, terus besok balik lagi kayak kemarin, itu namanya bukan perubahan terus menerus. Itu bukan belajar. Itu namanya perubahan sesaat.PengalamanApa yang membuat orang yang sedang belajar tersebut “berubah” adalah pengalaman. Seperti kasus kecelakaan Paijo, yang membuat dia berubah adalah pengalaman kecelakaan. Tanpa dengan kecelakaan, mungkin Paijo masih suka memakai helm ciduk. (Anda yang bernama Pijo jangan marah, ini bukan Anda).Perlu kita ketahui bahwa pengalaman di sini tidak mesti berupa kecelakaan. Pengalaman bisa saja diperoleh dari membaca buku, mendengarkan berita di televisi, membaca berita di koran, melihat pengalaman orang lain, dan sebagainya. Sebagai contoh, karena membaca berita sekian banyak orang mengalami kecelakaan fatal karena tidak mengenakan helm standar, Paimin selalu mengenakan helm standar. Meskipun diejek teman-temannya sebagai cah ndeso, penakut, Paimin tetap saja memakai helm standar. Mengapa??? Karena Paimin mendapatkan pengalaman tidak langsung dari hasil membaca berita.Apakah harus Pengalaman?Berikut ini sebuah renungan. Berikut ini sebuah sanggahan bahwa belajar tidak mesti dari pengalaman. Lho???Banyak ahli psikologi menyatakan bahwa perubahan-perubahan tingkah laku tidak mesti sebagai hasil dari pengalaman. Davidoff (1981), misalnya, mengatakan bahwa “Changes in behavior cannot always be attributed to experience, of course”.Contohnya begini. Kelelahan, narkoba, dorongan, emosi, dan kematangan bisa mengubah tingkah laku orang. Tetapi pengaruh pengalaman yang bernama kelelahan, narkoba, dorongan, emosi, dan kematangan ini tidak bisa dikatakan belajar. Nggak percaya??? KelelahanOrang yang sedang lelah berubah dari ngomong lancar menjadi ngomong tak lancar, wajah ceria menjadi tidak ceria, konsentrasi bagus jadi konsentrasi kacau. Tetapi semua itu bukan hasil belajar, meskipun itu sebagai hasil pengalaman yang bernama LELAH. Mau bukti??? Suruh saja orang yang lelah itu tidur yang cukup, setelah bangun dia pasti segar kembali, ngomongnya lancar lagi, konsentrasinya bagus lagi, semangatnya bangkit lagi. Jadi pengalaman semata belum tentu merupakan faktor belajar.NarkobaSetelah mengalami minum narkoba, seseorang jadi tampak segar, konsentrasi bagus, ngomong lancar. Minum narkoba ini kita sebut pengalaman. Tetapi apakah pengalaman itu merupakan belajar? Mari kita tunggu hingga pengaruh narkoba itu habis, apakah dia masih segar? Masih konsentrasi bagus? Masih bisa ngomong lancar? Jawabannya: TIDAK. Ini berarti bahwa pengalaman yang bernama minum narkoba ini bukan penyebab dia berubah tingkah laku yang bersifat terus menerus jangka panjang. Perubahan karena narkoba hanya bersifat pendek.DoronganContoh yang ketiga adalah pengalaman yang berupa dorongan. Dorongan juga tidak mempengaruhi belajar, karena perubahannya hanya sebentar. Mau bukti?? Ketika sedang lapar, dorongan untuk menyantap makanan besar sekali. Tuh ketika bulan Romadlon, menjelang buka puasa itu maunya kita menyantap habis semua masakan. Tetapi setelah makan, perut kenyang, masihkah dorongan itu? Tidak. Kita sudah tidak mau makan lagi. Ditawari yang enak-enak pun sudah tidak mau. Naaaaahhh, ini artinya tingkah laku ketika lapar itu (dorongan) tidak bisa diklasifikasikan sebagai belajar. Sifatnya hanya sesaat.EmosiEmosi juga bukan faktor yang mengubah tingkah laku (belajar). Anda misalnya, ketika sedang cemburu sama pasangan Anda emosi Anda naik hingga seratus derajad celcius. Gelas bisa pecah, kepalan tangan bisa menghantam tembok baja, gigi-gigi gemeretak bak mau mengunyah habis lawan Anda. Apakah perubahan ini terus menerus??? Tidak. Begitu rasa cemburu Anda hilang, yaaa karena ternyata tidak terbukti, Anda jadi menyesal karena telah memecahkan gelas, kepalan tangan Anda tidak keras lagi, dan gigi-gigi Anda berhenti bergemeretak.KematanganKematangan termasuk pengalaman. Kematangan bisa mengubah tingkah laku, dan perubahan tingkah laku akibat kematangan juga berlangsung lamaaaaaa sekali. Tetapi perubahan tingkah laku akibat kematangan BUKAN termasuk belajar.Contohnya, anak Anda berubah dari tidak bisa berjalan menjadi bisa berjalan. Apakah anak tersebut membutuhkan teknik-teknik berjalan? Tidak. Secara instinktif, dia bisa berjalan ketika sudah tiba waktunya. Yang dibutuhkan anak untuk berjalan hanyalah kesempatan (opportunity), lingkungan, fasilitas (kemudahan). Hal ini sama dengan apa yang dibutuhkan anak-anak sapi, anak kerbau, anak-anak kambing ketika tiba masanya berjalan.Davidoff (1981) menyebut kematangan ini dengan istilah “fixed action patterns” atau pola-pola tingkah laku yang pasti. Fixed action patterns ini meliputi tanggapan-tanggapan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut.1. Species-specific (observed among all normal same-sexed members of a species). Maksudnya tiap-tiap spesies memiliki ciri-ciri khusus. Manusia mempunyai ciri-ciri khusus. Kambing mempunyai ciri-ciri khusus. Katak mempunyai ciri-ciri khusus. Ciri-ciri khusus manusia (soal kematangan) berbeda dengan yang dimiliki kambing dan katak. Itupun masih dibatasi dengan laki-laki dan perempuan. Sama-sama tergolong manusia, tetapi kalau beda jenis kelamin kematangannya juga berbeda.2. Highly stereotyped.(similar whenever executed). Maksudnya bahwa kematangan itu benar-benar merupakan ciri baku dari suatu spesies. Jelasnya, yang namanya manusia kalau mengalami proses perubahan yaaa begitu itu, tidak seperti anak sapi atau anak kambing.3. Completed, once initiated. Maksudnya bahwa kematangan itu lengkap, dimulai dari kematangan yang satu terus diikuti oleh kematangan-kematangan yang lainnya. Anak umur satu tahun mengawali kematangan dari kematangan berjalan dan berbicara. Tidak mungkin anak usia satu tahun matang urusan sex atau sosial yang luas..4. Largely unlearned (al least independent of specific traning). Maksudnya secara umum tidak perlu dipelajari. Kematangan akan datang secara alamiah bersamaan perkembangan dan pertumbuhan suatu spesies.5. Resistant to modification. Maksudnya anti perubahan. Meskipun kita usahakan berubah lebih cepat, kalau belum tiba masanya yaaaa tidak mau berubah. Anak usia satu bulan kita paksa berjalan, yaaa tidak bisa.6. Triggered frequently by a very specific environmental stimulus. Maksudnya bahwa kematangan itu diletuskan oleh setiap rangsangan dari lingkungan. Maaf, kata ‘diletuskan’ ini mungkin kurang bisa Anda pahami, tetapi menurut saya inilah kata yang paling tepat. Artinya begini, ketika anak sudah tiba masanya untuk berjalan, tiba-tiba ada situasi tertentu yang diciptakan oleh lingkungan, sehingga tiba-tiba anak itu berjalan. Nah, inilah yang dimaksudkan dengan ‘diletuskan’ oleh rangsangan dari lingkungan.Sekali lagi, kematangan BUKAN termasuk belajar, meskipun perubahan sebagai akibat kematangan ini berlangsung lama sekali. Bahkan bisa sampai akhir hayat perubahan akibat kematangan itu masih ada. Anak yang sudah bisa berjalan akan tetap berjalan hingga akhir hayatnya.
|
| | |